Tag

, , ,

kode programSeorang teman ngobrol saya bertanya, “Bingung juga baca artikel tentang komputer di internet, sebenarnya apa sih beda istilah proprietary–bacanya juga susah euy–sama yang namanya opensource?”. Mungkin dia bertanya begitu karena sering melihat saya otak-atik komputer plus sering memprovokasi teman-teman untuk menggunakan Linux. “Akhirnya penasaran juga nih”, ujarku sambil tersenyum.

“Gini mas, proprietary itu kode sumber programnya tertutup, kita gak bisa otak-atik, cuma bisa pake, sedangkan opensource itu kode sumber programnya terbuka, jadi bisa dimodifikasi kalo ada masalah atau disesuaikan dengan selera”. Nah lo, tambah bingung kan? dia manggut-manggut, meski saya tahu sebenarnya dalam hatinya masih belum puas dengan jawaban saya. “Duh, saya nih awam banget dengan istilah-istilah komputer, bisa dijelasin lebih rinci gak mas?”. “Ok, gini mas, program itu kan dibuat pake bahasa khusus yang dipahami oleh mesin komputer, bahasa itu diistilahkan sebagai kode karena gak semua orang bisa paham kecuali yang sudah mempelajarinya. Sebagai contoh, ada bahasa program visual basic (vb), c++, java, dll, yang kalau dibaca seperti teks biasa agak rumit, banyak kurung buka-kurung tutupnya, banyak karakter-karakter khususnya, seperti ini nih!”, saya tunjukkan salah satu file kode program menggunakan vim di Ubuntu.

“Nah, file kayak gini dalam sebuah program bukan cuma satu, tapi butuh banyak file sejenis yang saling berkaitan, supaya programnya bisa jalan sesuai harapan pembuatnya. Setelah semua file yang dibutuhkan siap, maka file-file itu dijadikan satu, istilahnya dipaketkan, pernah pakai winzip atau winrar kan? seperti itu deh kira-kira. Cuma pemaketannya itu yang jadi perbedaan. Ada pemaketan yang paten seperti file *.exe di Windows, yang membuat kode-kode program tersebut tidak bisa dilihat oleh yang memakainya, ada juga yang pemaketannya tidak paten, seperti file *.tgz, *.rpm, *.deb, dll di Linux, file-file tersebut masih bisa diekstrak, dimodifikasi, bahkan dikonversi ke dalam format-format lain, seperti file *.tgz bisa dikonversi ke file *.rpm atau *.deb, dan sebaliknya. Kalaupun susah, sudah disiapkan kode sumbernya (source). Nah, pemaketan yang paten tadi disebut sebagai proprietary, kodenya tertutup, kita hanya bisa menggunakan saja, kalau ada masalah tinggal kontak ke pembuatnya agar dicarikan solusi, sementara yang tidak paten disebut sebagai opensource, kita bisa utak-atik sendiri sambil berusaha melacak kira-kira kode mana yang bermasalah, atau mau kita sesuaikan dengan kebutuhan komputasi kita, kalau gak ketemu bisa juga dilaporkan ke pembuatnya atau kepada orang yang ahli dalam bahasa program itu”, jawab saya berusaha menjelaskan lebih dalam.

“Lah, terus kenapa susah-susah begitu? berarti kan kita mesti belajar bahasa-bahasa begituan, pusing deh, lebih enak langsung lapor aja kalo ada masalah, daripada bingung sendirian?” ujarnya. “Di situlah bedanya mas, kalo opensource membuka kesadaran kita untuk belajar lebih banyak, kita bisa lebih pintar bukan hanya dalam hal memodifikasi kode yang sudah dibuat, tetapi mungkin pada suatu saat kita bisa membuat kode sendiri. Bahkan, bisa jadi pada suatu saat mas bisa membuat sendiri aplikasi yang mas butuhkan. Artinya, gak tergantung sama orang lain. Jadi gak perlu disuapin terus mas, lama-lama bisa makan sendiri!”, jawabku.

“Oh gitu ya, jadi kalo opensource itu kita bebas merubah-rubah?” ujarnya dengan kening sedikit mengerenyit. “Ya mas, asalkan tidak melanggar kode etik lisensinya. Misalnya, nama pembuat asli kode itu bagaimanapun tidak boleh dihapus, karena itu hak cipta. Kita bisa modifikasi isi kode sumber semau kita, tapi nama pembuat awalnya tetap harus disertakan. Abis itu, mas juga boleh buat komentar di bawahnya, dimodifikasi oleh …. tulis deh nama mas di situ. Lisensi itu diberlakukan agar kita tidak seenaknya mengklaim hak cipta orang lain. Secara hukum ada sanksinya lho mas”.

“Oh, ada lisensi juga. Lalu apa bedanya dengan lisensi yang ada di software proprietary?” obrolan kami semakin hangat. “Lisensi yang ada di software proprietary lebih ketat lagi mas. Bukan hanya dilarang klaim hak cipta, tapi juga gak bebas didistribusiin. Siapapun yang ingin pake, harus membayar lisensi dengan harga tertentu, dari yang lumayan murah hingga yang sangat mahal. Jadi, gak boleh sembarang dikopi, itu namanya pembajakan, bisa kena undang-undang HaKI nanti mas!”.

“Lho, emangnya yang opensource gak bayar?” tanyanya menyelidik. “Software opensource itu gratis mas. Kalaupun bayar, murah banget, paling cuma buat ganti kopi cdnya atau buat koneksi internet, soalnya banyak banget di internet dan bebas didownload. Kalau mau pesan ke pihak penyedia juga bisa, cuma bayar kopi cd sama sedikit ongkos kirimnya. Mas juga bisa minta kopiin sama teman-teman yang punya, dikopi seberapa banyak pun tetap legal karena gak melanggar hak cipta”.

“Wah, hebat. Kok bisa ya mereka bebasin begitu tanpa bayar apapun, padahal bikinnya kan gak gampang?”, ujarnya sambil berdecak kagum. “Itulah mas, karena prinsip pembuat software opensource berbeda dengan prinsip pembuat software proprietary, mereka berpikir bahwa ilmu pengetahuan itu milik bersama, milik seluruh manusia. Jadi mereka rela berbagi untuk membantu sesama”.

“Berarti lebih bagus yang opensource dong mas?”, ucapnya semakin mantap. “Wah, kalo pertanyaan itu sih jawabannya relatif mas. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, tergantung dari sudut apa menilainya. Tapi itu jadi sebuah pilihan. Buat saya yang kantongnya pas-pasan sih pasti opensource jadi pilihan terbaik. Selain gak perlu bayar mahal, halal gak perlu ngebajak, teknologinya luar biasa, saya pikir untuk sekadar mengerjakan tugas saya sehari-hari dan memenuhi hobi saya, software opensource sudah lebih dari cukup. Buat apa sih mas, komputer mahal dan canggih kalo cuma buat ngetik doang? Hehe.. Tapi jangan disalahartikan software opensource itu barang murahan, kacangan, cuma jadi alternatif terakhir. Justru semakin mendalami opensource, saya jadi tahu kalau gak semua yang mahal itu lebih bagus dan lebih hebat. Toh software-software opensource gak kalah bagus sama yang bayar, bahkan dalam beberapa segi justru lebih baik. Tapi kalau pilihan mas jatuh ke software proprietary, silahkan saja, itu hak mas”.

“Wah, jadi tambah semangat nih pengen tahu lebih banyak tentang opensource, gimana sih mas cara belajarnya supaya ccepat bisa?”. “Duh, jangan anggap saya sudah lihai banget mas, saya juga masih belajar. Ayo deh belajar bareng-bareng, banyak kok referensinya. Intinya, ada kemauan keras dan gak cepat bosan. Kalau gak, sampai kapanpun gak bakal bisa. Kan katanya kemauan keras itu adalah salah satu kunci keberhasilan mas. Tapi jangan sekarang ya, sudah sore nih. Besok-besok kita sambung lagi. Ok?”.

“Wah gak kerasa, panjang juga kita ngobrol, sudah jam segini. Ayo deh kita pulang, terima kasih mas”. “Sama-sama”. Dengan segera aku rapikan laptopku dan kertas-kertas yang berserakan di sampingnya. Jam menunjukkan pukul 5.15 wib. Saatnya aku berjibaku menghadapi semrawutnya jalanan bersama SupraX-ku yang setia. []

Iklan