Tag

, , ,

kekuatan-persepsiSeorang ayah terbaring lemah di atas tempat tidur. Matanya tak kuat lagi untuk membuka, namun ia berusaha sekuat tenaga mengangkat kelopaknya bagaikan mengangkat dua buah pintu dari baja. Ia tatap sendu pada kedua anaknya yang duduk di kanan dan kirinya, dan istrinya yang terisak-isak di kakinya. Dengan terbata-bata ia berucap, “Anak-anakku, ayah rasa sebentar lagi ajal akan menjemput. Ayah hanya ingin berpesan dua hal pada kalian..”

Kedua anaknya mendekatkan telinga ke bibir ayahnya. Lalu sang kakak berkata, “Ayah tersayang, apakah yang hendak ayah pesankan kepada kami?”

Sang ayah menjawab lirih, “Ayah berharap kalian tidak menagih hutang kepada orang lain, apapun keadaannya, dan tubuh kalian mulai hari ini tidak boleh terkena matahari secara langsung..”

Kedua anaknya saling berpandangan, tatapan mereka menyimpan seribu tanda tanya, tidak memahami maksud perkataan ayahnya. Namun, belum sempat anak-anaknya bertanya, sang ayah menghela nafas panjang seraya mengucap kalimat tasyahhud, lalu diam tak bergerak. Pecahlah tangis dari istri dan kedua anaknya. Mereka diliputi kesedihan yang mendalam.

Peristiwa itu terjadi sudah 5 tahun yang lalu. Hingga pada satu ketika sang ibu berkunjung ke rumah anaknya yang bungsu. Ia melihat anaknya hidup dalam kondisi serba kekurangan. Rumah yang ditempati dalam kondisi sangat memprihatinkan. Istri dan anak-anaknya kerap sakit-sakitan. Namun, sang suami tak mampu berbuat banyak.

Melihat kondisi demikian, sang ibu dengan sedih bertanya pada anaknya. “Putraku, mengapa kondisimu dan keluarga demikian sulit?” anak bungsu itu menjawab, “Ibunda, kondisi kami seperti ini karena saya menjalankan amanat dari ayah, saya tidak pernah menagih hutang kepada orang-orang yang berhutang pada saya meskipun jumlahnya sangat banyak. Karena ayah juga berpesan agar saya tidak terkena sinar matahari secara langsung, maka saya selalu carter taksi jika hendak keluar rumah, terutama untuk kebutuhan saya ke pabrik. Ibu sendiri tahu, saya hanya memiliki motor butut itu, dan tidak mungkin saya mengendarainya karena bisa menyalahi pesan dari ayah”.

Sang ibu mengangguk lemah, seraya menasehati anak bungsunya untuk tetap bersabar. “Semoga Allah memberikan kehidupan yang lebih baik kepada kalian” ujarnya.

Pada kesempatan lain, Sang ibu berkunjung ke rumah anak sulungnya. Ia terkagum-kagum melihat rumah yang dimiliki anaknya cukup besar, terlihat bahwa anak sulungnya hidup dalam kecukupan. Istri dan anak-anaknya sehat dan ceria, kebahagiaan tergambar jelas dalam raut muka mereka.

Sang ibu bertanya, “Putra sulungku, bagaimana caranya engkau bisa mendapatkan kehidupan yang baik ini?” Sang anak menjawab, “Ini semua karena berkat saya mematuhi pesan dari ayah, ibunda”. Ibunya menatap dalam-dalam, seakan tak percaya dengan ucapan anaknya. “Adikmu juga mematuhi pesan ayah, namun mengapa kondisi kalian jauh berbeda?” tanyanya menyelidik.

Sang anak menjawab, “Begini ibunda, ayah berpesan agar aku tidak pernah menagih hutang kepada orang lain, karena itu aku tidak pernah memberikan hutang kepada siapapun. Jika kami sedang ada rejeki, kami sedekahkan harta itu kepada orang yang membutuhkan, dan kami sama sekali tidak menganggapnya sebagai hutang. Lalu ayah juga berpesan agar aku tidak terkena sinar matahari secara langsung. Karena saya hanya memiliki motor itu, maka saya pergi ke tempat bekerja pada waktu subuh sebelum matahari bersinar, dan saya pulang ke rumah pada malam hari, saat matahari sudah tenggelam. Dengan demikian, saya tidak menyalahi pesan ayah”.

Sang ibu tersenyum, seraya mendoakan agar anaknya diberikan keberkahan yang lebih besar dari Allah swt.

Demikianlah, satu pesan dapat ditafsirkan berbeda oleh dua pribadi, tergantung pada persepsi masing-masing dalam memahami pesan tersebut. Karena itu, kita harus berhati-hati dalam mengambil sikap dari persepsi yang kita miliki, karena persepsi menjadi salah satu faktor penentu kesuksesan. Sebaliknya, persepsi yang keliru justru dapat menuai kehancuran bagi kehidupan kita selanjutnya. Semoga bermanfaat. 🙂

Iklan