Tag

, , , , , , ,

Ketaatan kepada guru adalah kunci kesuksesan tholabul ilmi. Dengan melakukan itu, kita bukan hanya akan beroleh ilmu manfaat, tetapi juga keberkahan dan keikhlasannya yang menjadi sebab diri kita “terberkahi” dan pantas untuk menjadi penerus ilmunya di masa yang akan datang. Ketaatan itu mutlak dilakukan, selama tidak melanggar syari’at dan tidak mengandung hal-hal yang menjerumuskan diri ke dalam maksiat. Itu yang pernah diajarkan guru-guru saya dulu, dan alhamdulillah dengan istiqamah saya berusaha jalani, hingga Allah swt bukakan tabir-tabir rahasia, janji, dan rezeki-Nya “min haytsu la yahtasib“.

Anehnya, saat ini begitu banyak murid tak mau lagi mendengarkan gurunya. Begitu mudah mereka melawan arah, melanggar tatakrama, bahkan tidak sudi menghargai gurunya. Padahal Sayyidina ‘Ali KW sendiri pernah menyatakan, beliau siap menjadi “budak” bagi siapapun yang mengajarinya meski hanya “1” huruf. Terkesan berlebihan, tetapi jika direnungkan dalam-dalam, hal itu sangat wajar dipersembahkan kepada seseorang yang telah berkontribusi mencetak kita menjadi seperti sekarang ini.

Ya, zaman sudah berubah. Sekarang ini sudah menjadi zaman kebebasan, bahkan bebas melakukan apapun meski melanggar norma-norma moral dan kesopanan. Aturan-aturan tak tertulis seperti di atas seakan sudah menjadi barang yang lapuk, kuno, bahkan pantas ditertawakan.

Jelaslah sudah apa yang selama ini menjadi tanda tanya besar dalam hati saya. Mengapa orang-orang dulu–dengan segala keterbatasannya–mampu untuk menjadi orang-orang hebat, ilmunya–khususnya ilmu agama–sangat luas, bahkan turun-temurun diwariskan hingga saat ini, dan menjadi tokoh-tokoh pioner perubahan pada masanya. Sementara masa kini, sangat banyak orang-orang pandai, tetapi kemasyhuran imunya hanya seumur jagung, tak berbekas pada generasi-generasi selanjutnya. Ternyata, hal itu karena mereka berbeda dalam cara mentaati, menghargai, dan mencintai gurunya. Semakin kuat ketaatan, penghargaan, dan kecintaan, maka semakin deras keberkahan akan mengalir. Dengan keberkahan itu, maka ilmu akan abadi–hingga akhir dunia ini–meskipun jasad pemiliknya telah berkalang dengan debu.

Ya Allah, jangan Kau berikan kami ilmu kecuali Kau sematkan bersamanya keberkahan-Mu, keberkahan nabi-Mu, dan keberkahan yang Kau anugerahkan kepada guru-guru kami.. Berikan kami kekuatan untuk selalu mampu mentaati guru-guru kami, karena mereka adalah pewaris–ilmu–dari para nabi-Mu, yang membawa syari’at-Mu, dan mengajarkan ketaatan mutlak kepada-Mu. Berkahilah mereka semua, dan anugerahi kami serpihan-serpihan dari keberkahan guru-guru kami itu.. Amin. [Ibn Dawam]

Iklan