Tag

, , , , ,

tabibSeorang sinshe berdarah Tionghoa membuka praktek pengobatan di kota. Karena keahliannya dalam meracik obat, membuat banyak orang datang berobat. Sebut saja namanya sinshe Kung-pao. Pasiennya selalu membludak, bukan hanya dari dalam kota, tetapi juga dari kota-kota sekitarnya.

Suatu hari, datanglah seorang tabib keturunan Arab ke kota itu. Sebut saja namanya tabib Wan Ogut. Melihat banyaknya pasien sinshe Kung-pao, ia tertarik untuk buka praktek juga di kota itu. Akhirnya, ia menyewa ruko di depan rumah sinshe, dan membuka klinik pengobatan ala Arab.

Hari demi hari dijalani, tidak terlalu banyak pasien yang datang berobat ke klinik tabib Wan Ogut. Tetapi pasien sinshe Kung-pao semakin ramai. Hingga pada satu saat tabib Wan Ogut mulai kesulitan untuk membayar karyawan dan kontrakan rukonya, karena pemasukannya jauh dari yang diharapkan. Akhirnya ia berpikir keras, bagaimana caranya agar bisa bersaing dengan sinshe. Aha!!, ia menemukan ide. Segera ia ubah plang nama klinik dengan tambahan pesan, “Klinik Berobat Tabib Wan Ogut. Berobat di sini insya Allah sembuh. Jika tidak, uang kembali 3x. Setiap berobat diberi bonus minyak ekstrak onta perjaka”.

Wah, plang nama menggiurkan itu membuat pasiennya langsung membludak. Bahkan, pasien yang biasa berobat ke sinshe sekarang beralih ke tabib Wan Ogut. Hal itu membuat sinshe geleng-geleng kepala, hingga ia mengalami masa paceklik seperti yang telah dialami oleh sang tabib. Berbagai upaya dilakukan sinshe untuk mengembalikan pasiennya, tetapi selalu kandas. Kondisinya semakin sulit, hingga sinshe tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan keluarganya. Pikiran licik mulai datang. Sinshe datang berobat ke tabib, berpura-pura sakit yang kira-kira tidak bisa disembuhkan, sehingga garansi 3x lipat bisa diperolehnya. Dengan begitu, bisa mendongkrak pemasukannya. Di ruang periksa, terjadi percakapan antara sinshe dan tabib.

Tabib: “Wah, sinshe sakit apa? kok berobat ke sini? bukankah sinshe lebih ahli mengobati?

Sinshe: “Iya, saya sakit yang sampai sekarang belum ketemu obatnya. Lidah saya mati rasa, sehingga tidak bisa merasakan apapun yang masuk ke mulut. Saya siap bayar mahal jika penyakit ini bisa sembuh!”

Melihat gelagat sinshe yang tidak terkesan seperti orang sakit, tabib tahu kalo ia sedang dikibuli. Akhirnya ia memanggil pelayannya.

Tabib: “Mad, ambil obat nomor 13 segera! Kasihan sinshe harus segera diobati!”

Amad: “Baik tuan”.

Sinshe berpikir, obat apa itu nomor 13? Kelihatannya sangat manjur sehingga tabib tidak perlu bertanya banyak tentang penyakitnya, Ia menunggu. Datanglah si Amad membawa obat kapsul besar berwarna hijau.

Tabib: “Silahkan di minum di sini, agar saya tahu obat ini manjur atau tidak. Kalau tidak, saya akan ganti 3x lipat uang berobatnya. Kapsulnya khusus, jangan langsung ditelan. Tetapi dikunyah dulu 1 menit agar lidah sinshe kembali sensitif”.

Sinshe menuruti saran tabib, ia kunyah kapsul itu. Tapi kok isinya agak lengket? Dan baunya khas, seperti……… “Wah, ini sih kotoran ayam!!!” seru sinshe. “Alhamdulillah, sekarang sinshe sudah sembuh.. selamat ya..” ujar tabib sambil tersenyum.

“Sial, kenapa saya disuruh makan kotoran ayam?” Sinshe marah dengan suara keras. “Lho, katanya mau diobati. Apapun yang dimakan kan tetap saja tidak terasa? kalau sudah terasa, berarti lidah sinshe sudah sembuh. Bersyukurlah kepada Allah”. jawab tabib dengan senyum dan tenang. Akhirnya sinshe membayar mahal atas kebohongannya. Sinshe pulang dengan menggerutu.

Beberapa bulan berselang, sinshe belum juga puas atas kejayaan si tabib. Kondisinya sendiri sudah semakin buruk. Dalam 1 hari paling hanya ada 1 orang pasien yang datang berobat. Ia mencari cara lagi untuk mengelabui tabib Wan Ogut. Sinshe datang ke klinik, kembali berpura-pura sakit. Ia yakin kali ini pasti berhasil.

Tabib: “Ahlan, ahlan sinshe.. sakit apa yang dirasa saat ini?”

Sinshe: “Saya punya penyakit pelupa, sehingga apapun yang saya lakukan tidak bisa saya ingat. Jangankan satu bulan, baru satu jam saja saya sudah lupa. Saya sudah coba cari ramuan, tapi tetap saja tidak bisa sembuh”.

Tabib: “Oh, begitu. Wah, bahaya kalau hal itu dibiarkan terus. Mari saya bantu obati”. Jawabnya dengan tenang. “Mad, ambilkan obat nomor 13 segera!! Sinshe harus segera kita obati!” ujarnya kepada pelayannya.

Sinshe: “Wah.. jangan.. jangan.. kalau obat itu saya tahu, itu kan isinya kotoran ayam!” teriak sinshe kepada pelayan.

Tabib: “Nah, ternyata belum saya kasih obat, sinshe sudah sembuh. Kan sekarang sudah bisa ingat isi obat yang pernah saya berikan dulu?” jawab tabib sambil tersenyum lebar.

Sinshe: “@!$#%^@&*$(@^$#%(@)&%#%^@”

Iklan