Tag

, , , ,

Tadi siang ikut sholat Jum’at di sebuah masjid kecil di bilangan kota Bekasi. Dari awal sudah ada keganjilan, saat masjid-masjid sekitarnya mengumandangkan adzan, masjid tempat saya sholat justru masih menunggu. Kurang lebih 5-10 menitan setelah yang lain selesai adzan, baru dikumandangkan adzan di masjid itu setelah khatib terlebih dahulu mengucap salam di atas mimbar. Saya pikir, biasa, itu cuma perbedaan prinsip adzan antara yang pakai 2x adzan dengan yang pakai adzan tunggal.

Khatib memulai ceramahnya. Di penghujung mukaddimah khutbah awalnya, ia akhiri dengan “Wa kulla muhdatsatin bid’ah, wa kulla bid’atin dhalalah,” tanpa ada kelanjutan haditsnya. Isi khutbah selanjutnya sudah dapat ditebak, tidak jauh dari hal-hal yang diklaim sebagai bid’ah, sehingga sangat tercela orang yang mengikutinya.

Mendengarkan sambil terkantuk-kantuk, karena yang khutbah sudah sepuh (jenggotnya panjang dan sudah memutih), suaranya sangat kecil, dan tidak menggunakan mic (adzan dan khutbah dari awal tidak pakai mic). Mungkin menghindari “bid’ah“, begitu terlintas dalam hati saya. Sangat mencengangkan pula, dengan ceramahnya yang begitu berapi-api membahas bid’ah, justru bacaan ayat Al-Qur’an dan Hadits sang khatib sangat berantakan. Saya bandingkan dalam hati dengan anak-anak TPA yang telah menyelesaikan mengaji buku IQRA 5, kayaknya masih bagusan mereka. Bahkan, saya kira khatib ini sama sekali tidak paham bahasa Arab, karena nahwu-shorofnya “blepotan“, kalau tidak sopan jika saya katakan “sangat rusak”. Saya masih bersabar, dalam hati berdoa, mudah-mudahan imamnya nanti bukan sang khatib, mudah-mudahan bacaan imam lebih baik.

Iqamat dikumandangkan. Dengan pengganjilan takbir “Allahu Akbar” tanpa diulang 2x. Entah saya yang bodoh dan belum tahu dalilnya, atau memang ada masalah. Tapi selama ini saya tidak pernah mendapati hadits, maupun kebiasaan orang Arab untuk mengganjilkan takbir dalam iqamat. Mereka tetap menggunakan 2x takbir (Allahu-Akbar Allahu-Akbar). Yang saya pahami–mengikuti pemahaman ulama masa lalu–, pengganjilan takbir dalam iqamat adalah mengurangi 1x bacaan takbir dalam adzan (di adzan 2 rangkai, 4x takbir). Jadi kalau di dalam adzan, “Allahu-Akbar Allahu-Akbar” di ulang 2x, maka dalam iqamat tidak perlu diulang. Cukup dibaca 1 rangkaian saja. Mungkin saja ada dalil lain yang tidak sama dengan pemahaman saya, makanya saya share, kali aja ada teman-teman yang tahu.

Sebelum shalat dimulai, imam (nah, ternyata tetap yang sebelumnya khatib) mengulang 2x penegasan, nanti membaca amiiin.. adalah setelah imam selesai membaca amiiin.. bukan bersamaan. Dalam hati saya tersenyum, mungkin beliaunya belum pernah baca hadits aslinya, kalau baca amiiin bukan setelah imam membacanya, tetapi setelah imam membaca al-Fatihah. Otomatis pembacaan amiiin akan bersamaan antara imam, ma’mum, dan malaikat (rujuk haditsnya, lafadz hadits menggunakan kata sambung “fa” yang berarti jedanya tidak terlalu lama, berbeda jika menggunakan “tsumma“; malaikat juga akan ikut meng-amini, bahkan siapa yang bersamaan amiiinnya dengan malaikat, maka dosa-dosanya yang telah lalu dijanjikan akan diampuni oleh Allah swt.). Di seluruh belahan dunia Arab-pun yang benar-benar paham bahasa Arab, mereka tetap membarengi imam dalam pengucapan amiiin.. Ya sudahlah, saya tidak perlu berkomentar.

Benar saja. Ma’mum jadi bingung dan tidak kompak. Sebagian mengucapkan amiiin bersamaan imam (termasuk saya.. hehe), sebagian lagi mengucapkan amiin setelah kami. Jadi dalam 1 rakaat ada 2x amiiin.. rame kan??

Sangat memprihatinkan, di tengah-tengah masyarakat yang masih banyak buta agama, masih ada saja orang-orang seperti mereka, sehingga tambah membingungkan umat. Jika tidak mampu, mengapa tetap “maksain diri” jadi khatib dan imam, sementara masih banyak orang lain yang jauh lebih mampu.

Begitu pula, sangat disayangkan jika membaca hadits setengah-setengah. Seperti hadits pertama yang dikutip oleh khatib, “Kulla muhdatsatin bid’ah, wa kulla bid’atin dhalalah“. Sebenarnya masih ada kelanjutannya; “Wa ‘alaikum bil jama’ah fa inna yadallahi ma’al jama’ah, wa man syadzdza syadzdza finnaar..“. Nah lo, ujungnya ga dibaca. Padahal penegasannya jelas, harus ikut “Jama’ah” (kelompok mayoritas), bukan bikin pemahaman sendiri. Makanya disebut Ahlussunnah wal Jama’ah, karena kita ga mungkin bisa benar-benar memahami hadits Nabi saw, kalau tidak ada petunjuk ulama salafusshalih. Yang paling mudah dilihat, hadits nabi: “Shallu kama ra`aitumuni ushalli” (shalatlah kalian seperti halnya kalian lihat aku shalat). Kondisi kita saat ini tidak mungkin melihat langsung bagaimana praktik shalat Nabi. Karena itu, kita ikuti riwayat para sahabat, yang dilanjutkan periwayatannya oleh tabi’in, tabi’ut-tabi’in, dan para ulama setelahnya. Bukan sok-sok-an ngerasa dah bener sendiri cuma baca dari hadits Nabi dan mengesampingkan riwayat para alim ulama. Bahaya, bisa jadi sesat dan menyesatkan. Contohnya tadi, masalah amiiin itu.

Ternyata tugas kita masih banyak. Bukan hanya kewajiban membimbing agama bagi masyarakat awam, juga meyakinkan mereka–yang merasa sudah paling benar–bahwa banyak amaliah mereka yang masih harus dibenahi. Kenyataan yang biasa terjadi, alih-alih pendapat kita didengar, justru mereka lebih keras menyatakan bahwa kita harus “diislamkan”, dan dikembalikan ke jalan yang benar. Na’udzu billah. Buta mata jauh lebih beruntung daripada buta matahati. Sering tidak disadari bahwa keegoisan dan fanatisme sedikit demi sedikit akan menjauhkan kita dari kebenaran, dan berpotensi memecah belah umat Islam. Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir..

[Ibn Dawam]
Lepas Isya, 29-03-2013

Iklan