Tag

, , , ,

Hari gini masih ada aja orang yang nanya, “Mana yang benar, ikut Al-Qur’an dan Sunnah apa ikut ulama?”

Pertanyaan yang sangat tendensius dan provokatif, seakan-akan memposisikan ulama bukanlah orang yang mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah.

Kalau dijawab, akan membuka ruang perdebatan yg panjang. Akan lebih baik jika kita buat pertanyaan balik, “Jika anda sakit, lalu dibawakan daun-daunan dan bahan-bahan mentah untuk diracik jadi obat, apakah anda pilih meracik sendiri atau anda tinggal datang ke dokter untuk mendapatkan resep obat yang tepat?”

Jika paham dalam peracikan obat (karena punya ilmunya), maka mungkin akan dipilih meracik sendiri. Tetapi jika tidak menguasai ilmunya atau sekadar untuk mempermudah, akan lebih baik melakukan konsultasi ke dokter. Orang awam yang meracik obat sendiri dikhawatirkan bisa salah dosis, atau justru menjadi racun yang membahayakan dirinya.

Begitupun halnya dengan agama. Jika memang menguasai ilmu-ilmu terkait Al-Qur’an dan Sunnah, terutama ilmu bahasa Arab (awas! bukan terjemahannya!) tidak salah jika kita merujuk langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah, dengan catatan tidak mengabaikan komentar dan tafsiran orang-orang yang lebih ahli.

Jika tidak menguasai ilmunya (cuma pinter ngaji lewat google, atau sekadar baca terjemahan-terjemahan), maka jangan sok tahu. Anda TIDAK SALAH mengikuti pendapat dan tuntunan para ulama yang mu’tabar (diakui secara ijma’ kesalehan dan keluasan ilmunya).

Jadi, jangan pertanyakan mana yang lebih benar antara keduanya, karena keduanya benar. Pertanyakanlah kapasitas diri sendiri, sudah mampukah menjadi golongan pertama, atau masih harus ikut golongan kedua?

Janganlah kita mendustakan Hadits Nabi saw.:

العلماء ورثة الأنبياء

“Ulama adalah pewaris para nabi”.

Mengikuti pewaris nabi sama halnya kita mengikuti nabi. Jika sudah mengikuti nabi, kenapa masih ragu, apakah sudah ikut Al-Qur’an dan Sunnah?

Jika belum mampu jadi ulama, alangkah baiknya jika mampu mengikuti tuntunan, menghargai, dan mencintai mereka. Jangan jadi orang yang kelima, engkau akan hancur!

Mungkin akan ada yang mengatakan, keterangan di atas adalah qiyas ma’al fariq, tidak layak Al-Qur’an dan Sunnah diqiyaskan dengan obat. Saya juga tidak mengatakan itu qiyas yang tepat, saya hanya berpijak pada substansinya. Obat adalah penawar penyakit jasmani, sementara Al-Qur’an dan Sunnah adalah penawar penyakit rohani (bahkan juga bisa untuk penyakit jasmani).

Penyakit jasmani tidak lebih berbahaya daripada penyakit rohani. Apalagi jika sudah menggerogoti akidah, menebar fitnah, dan menabur kesesatan pada orang lain. Jadi, sebelum terlambat, sadarilah kapasitas diri kita masing-masing.

Secara pribadi, saya masih ikut para ulama–yang saya yakin mereka berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah. Saya merasa nyaman dengan bimbingan mereka. Perkara anda mau menghakimi saya salah, itu hak anda. Tiada hakim yang lebih adil kecuali Allah swt. Mari nanti kita diskusikan lebih lanjut di hadapan-Nya… Wallahu a’lam. [ID]

Iklan